RSS

Semuanya Indah Jangan Menangis Mama(sempatkan untuk membaca ini)

04 Oct

Judul asli : All Is Beautiful. Try Not To Cry

diterjemahkan oleh Andry.

Bu Sally segera bangun ketika melihat dokter bedah keluar dari kamar operasi. Dia bertanya dengan penuh harapan :

Bagaimana anakku? Apakah ia dapat disembuhkan? Kapan saya boleh menemuinya?

 Dokter bedah menjawab, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sayangnya anak ibu tidak tertolong.” 

Bu Sally bertanya dengan hati remuk, “Mengapa anakku yang tidak berdosa bisa terkena kanker? Apa Tuhan sudah tidak peduli lagi? Dimana Engkau Tuhan ketika anak laki-lakiku membutuhkanMu?

Dokter bedah bertanya, “Apa ibu ingin bersama dengan anak ibu selama beberapa waktu? Perawat akan keluar beberapa menit sebelum jenazahnya dibawa ke Universitas.”

Bu Sally meminta perawat tinggal bersamanya saat dia akan mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Dengan penuh kasih dia mengusap rambut anaknya yang hitam itu.

“Apa ibu ingin menyimpan sedikit rambutnya sebagai kenangan?” perawat itu bertanya. Bu Sally mengangguk. Perawat memotong sedikit rambut dan menaruhnya di dalam kantong plastik untuk disimpan.

Ibu Sally berkata, Jimmy anakku ingin mendonorkan tubuhnya untuk diteliti di Universitas. Dia mengatakan mungkin dengan cara ini dia dapat menolong orang lain yang memerlukan.

“Awalnya saya tidak membolehkan tapi Jimmy menjawab, ‘Ma, saya kan sudah tidak membutuhkan tubuh ini setelah mati nanti. Mungkin tubuhku dapat membantu anak lain untuk bisa hidup lebih lama bersama ibunya.”

Bu Sally terus bercerita, “Anakku itu memiliki hati emas. Jimmy selalu memikirkan orang lain. Selalu ingin membantu orang lain selama dia bisa melakukannya.” Bu Sally meninggalkan rumah sakit setelah menghabiskan waktunya selama enam bulan untuk merawat Jimmy…

Dia membawa kantong yang berisi barang-barang anaknya. Perjalanan pulang sungguh sulit baginya. Lebih sulit lagi ketika dia memasuki rumah yang terasa kosong. Barang-barang Jimmy ditaruhnya bersama kantong plastik yang berisi segenggam rambut di dalam kamar anak lelakinya. Dia meletakkan mobil mainan dan barang-barang milik pribadi Jimmy, anaknya, di tempat Jimmy biasa menyimpan barang-barang itu. Kemudian dibaringkan dirinya di tempat tidur. Dengan membenamkan wajahnya pada bantal, dia menangis hingga tertidur. Disekitar tengah malam, Sally terjaga. Di samping bantalnya terdapatsehelai surat yang terlipat. Surat itu berbunyi :

Mama tercinta, Saya tau Mama akan kehilangan saya, tetapi saya akan selalu mengingatmu, Ma dan tidak akan berhenti mencintaimu walaupun saya sudah tidak bisa mengatakan ‘Aku sayang Mama’. Saya selalu mencintaimu bahkan semakin hari akan semakin sayang padamu, Ma. Sampai suatu saat kita akan bertemu lagi. Sebelum saat itu tiba, jika Mama mau mengadopsi anak lelaki agar tidak kesepian, bagiku tidak apa-apa Ma. Dia boleh tidur di kamarku dan bermain dengan mainanku. Tetapi jika Mama memungut anak perempuan, mungkin dia tidak melakukan hal-hal yang dilakukan oleh kami, anak lelaki. Mama harus membelikannya boneka dan barang-barang yang diperlukan oleh anak perempuan. Jangan sedih karena memikirkan aku, Ma. Tempat aku berada sekarang begitu indah. Kakek dan nenek sudah menemuiku begitu aku sampai di sana dan mereka menunjukkan tempat yang indah. Tapi perlu waktu lama untuk melihat segalanya disana. Malaikat itu sangat pendian dan tampak dingin. Tapi saya senang melihatnya terbang. Dan Mama tau apa yang kulihat? Yesus tidak seperti gambar-gambar yang dilukis manusia. Tapi, ketika aku melihatNya, aku yakin Dia adalah Yesus. Yesus sendiri mengajakku menemui Allah Bapa! Tebak Ma apa yang terjadi? Aku boleh duduk di pangkuan Bapa dan berbicara denganNya seolah-olah aku ini orang yang sangat penting. Aku menceritakan kepada Bapa bahwa aku ingin menulis surat kepada Mama untuk mengucapkan selamat tinggal dan kata-kataku yang lain. Namun aku sadar hal ini pasti tidak diperbolehkanNya. Tapi Mama tau, Allah sendiri memberikan sehelai kertas dan pensilNya untuk menulis surat ini kepada Mama. Saya pikir malaikat Gabriel akan mengirimkan surat ini kepadamu, Ma. Allah mengatakan akan menjawab pertanyaan Mama ketika Mama bertanya, ‘Dimana Allah pada saat aku membutuhkannya?’ Allah mengatakan Dia berada bersama diriku seperti halnya ketika puteraNya Yesus disalib. Dia ada di sana Ma, dan Dia selalu berada bersama semua anak. Ngomong-ngomong, tidak ada orang yang dapat membaca apa yang aku tulis selain Mama sendiri. Bagi orang lain, surat ini hanya merupakan sehelai kertas kosong. Luar biasa kan, Ma? Sekarang saya harus mengembalikan pesil Bapa yang aku pinjam. Bapa memerukan pensil ini untuk menuliskan nama-nama dalam Buku Kehidupan. Malam ini aku akan makan bersama dengan Yesus dalam perjamuanNya. Aku yakin makanannya akan lezat sekali. Oh, aku hampir lupa memberitahukanmu, Ma. Aku sudah tidak kesakitan lagi. Penyakit kanker itu sudah hilang. Aku senang karena aku tidak tahan merasakan sakit itu dan Bapa juga tidak tahan melihat aku kesakitan. Itulah sebabnya mengapa Dia mengirim Malaikat Pembebas untuk menjemputku. Malaikat itu mengatakan bahwa diriku merupakan kiriman istimewa! Bagaimana, Ma? Salam kasih dari Allah Bapa, Yesus & aku.

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in renungan

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: